Sucindah

AKU, BEBAN, DAN PENJARA

Tertekan, aku sudah bosan terus ditekan oleh kebohonganku selama ini. Aku sudah lelah, bahkan sangat lelah dengan semua tekanan ini. Disini, di tempat yang sunyi ini, dimana jeruji besi mengelilngiku, mungkin merupakan tempat yang terbaik bagiku membalas semuanya. Tempatku ini memang buruk bahkan sangat buruk, tetapi sekarang mungkin lebih baik daripada disana, tepatnya diluar sana dimana mungkin ragaku bebas dengan jiwaku yang sangat sepi. Meski di tempat ini, di penjara, aku merasa memiliki jiwaku yang sesungguhnya tanpa harus memikirkan apapun yang terjadi diluar sana, di dunia yang penuh dengan beban dan tekanan serta ketakutan akan hukum. Ini penjara ragaku tetapi bukan penjara jiwaku.

Di tempat ini, tak hanya ada aku,ad tetanggaku yaitu Jono sang pengusaha yang telah jatuh karena hutangnya, dan juga Bayu si penipu ulung yang akhirnya tertangkap. Tempat ini telah menyadarkan kami, menyadarkan dari kekelaman hidup kami selama ini meskipun harus merasa sesak akan kehidupan dimana kami sekarang ini hanyalah angka nol. Dan ini adalah awal dari hariku dan kehidupanku yang baru.

“Mengapa kau bisa masuk ke tempat seperti ini ?” Tanya Jono.

“Aku ketahuan mengobyek pajak perusahaan temanku.” Jawabku.

“Oh, bagaimana dengan keluargamu?” Tanya Jono lagi.

“Keluargaku sudah tidak ada.” Jawabku dingin.

Keluargaku sebenarnya masih ada diluar sana dan semoga sedang baik-baik saja sekarang disana. Akupun tidak mau merusak nama keluargaku karena kesalahnku. Meskipun kini, istriku telah pergi dengan laki-laki baru pilihannya yang masih muda dan kaya, tidak sepertiku yang tidak bisa apa-apa lagi disini. Begitu juga putriku yang kini sudah hidup bahagia dengan suaminya meski harus merubah hidupnya menjadi sederhana karena ketidaksetujuanku dulu dengan suaminya yang menyebabkan ia kabur dengan orang yang sangat dicintainya. Semua itu memang berawal dari kebodohanku dan berakhir dengan hasil seperti ini.

Jono hanya dapat menatapku dengan merasa tidak enak tentang pertanyaanya tadi, meskipun ia sebenarnya tidak tahu bahwa kenyataannya lebih buruk dari jawabanku itu.

Lalu aku pun bertanya “Mengapa kalian bisa masuk penjara?”.

“Karena aku sudah bosan menipu dan terus bersembunyi dari kejaran polisi.” Ungkap Bayu dengan logat Bataknya.

“Kalau aku, karena kebodohanku mengelola perusahaan sehingga ditipu oleh temanku sendiri.” Ucap Jono.

Kurasa, kesalahan yang mereka lakukan tidak sebodoh aku. Sebodoh aku yang telah membuat banyak orang khususnya rakyat miskin tidak dapat mendapatkan suatu kesejahteraan karena orang-orang sepertiku yang membuat sebuah penyesalan besar dalam hidupku. Jikapun aku telah mengucapkan maaf dengan sungguh-sungguh dan telah mengembalikan semua hasil perbuatan haramku, itu semua tidak cukup. Sangat banyak rakyat yang menanti kesejahteraannya, sedangkan aku dengan mudah merenggut semua harapan mereka itu.

Aku, orang yang sangat wajar dibenci oleh banyak orang karena kesalahanku di masa lampau. Tapi, tidak semuanya itu kesalahanku, karena sebenarnya aku adalah orang yang diperalat oleh atasanku karena menganggapku dapat dibodohi dengan melakukan semua kesalahan yang telah kulakukan itu. Kini semuanya hanya penyesalan yang tiada akhir jika aku tidak bisa menjadi orang yang ikhlas menerima semuanya. Dan kini tidak ada alasan bagiku untuk tidak ikhlas karena aku pun sudah cukup puas sekarang.